Apa sih bedanya definisi belajar dari “Learn” dengan “Study”?

Apa sih bedanya definisi belajar dari “Learn” dengan “Study”?

4009
2
SHARE

Hello, makeitationers! Kembali lagi nih gue ngepost artikel yang Insya Allah kalian tunggu-tunggu. Soalnya, gue baru selesai ujian semester dan mulai skripsi-an nih sambil belajar yang lain. Maklumlah, udah semester kece gini (semester 8), ya harus skripsi-an.

Eh, kemarin tuh saat beberapa hari menjelang ujian, ada temen nanyain gue,

Eh Bio, itu buku-buku* apaan sih? Gue sering banget liat kamu bawa buku itu. Belajar apaan sih?”, kira-kira seperti itu pertanyaannya.

*Buku-buku: Note-note kecil gue 😀

Oh, buku-buku ini! Ya, gue sengaja aja beli buku-buku ini buat nyatet ide-ide yang akan muncul di otak gue nantinya. Soalnya sekarang, gue lagi belajar beberapa skill yang gue pikir seru banget untuk dikembangin, yaitu writing (menulis), deduction (deduksi, kalo kalian tahu Sherlock Holmes), English accents (logat-logat bahasa inggris) dan translation (penerjemahan).

Temen gue ngerespon,

Oh, gitu ya! Tapi kamu kok bisa seperti itu sih? Gue mana bisa belajar gitu. Di kelas aja males, apa lagi mau belajar gitu, malesnya minta ampun.

Dan akhirnya gue ngejawab serinci-rincinya karena gue liat dia penarasan banget sama hal yang gue lakuin. Gue certain ya!

Dulu pas SMA, gue males banget yang nama belajar apalagi kalo pelajarannya ngebuat gue pusing, dan sampai lulus SMA pun, belum juga tuh tau dimana tempat enaknya belajar. Diawal-awal masa perkuliahan juga seperti itu, kok males banget untuk belajar. Pokoknya gak seru deh kalo dengar kata “belajar” itu, seperti beban langsung terisi full di otak gue.

Suatu waktu (kuliah semester 3) pas gue lagi browsing-an, gak sengaja gue ngeliat dan langsung ngebaca salah satu artikel di website terkenal yang ngebahas kalo belajar itu ada dua jenisnya. Disitu ngejelasain bahwa ada belajar yang mengejar kepentingan akademik, dan ada belajar yang memang untuk mencari sesuatu yang belum kita tau. Bukan hanya itu, di kelas gue juga ada pelajaran yang ngebahas bahwa belajar itu dibagi menjadi dua juga seperti di artikel sebelumya yang pernah gue baca. Okay, gini penjelasannya!

Sebenarnya kata “belajar” dalam bahasa inggris itu ada dua, yaitu “learn” dan “study”. Nah jika dilihat dari segi definisi, sangat jelas sekali bahwa learn dan study itu beda.

Menurut terjemahan Cambridge Dictionary (Kamus kece gue :D),

Kata “Learn” definisinya, “to get knowledge or skill in a new subject or activity”, (memperoleh ilmu atau keterampilan pada sebuah subyek atau aktivitas).

Sedangkan,

Kata “Study” definisinya, “to learn about a subject, especially in an educational course or by reading books”, (memperlajari sebuah subyek, khususnya pada pelajaran sekolah atau melalui buku bacaan).

Sangat jelas kan bedanya!

Kalo belajar dari definisi “learn” dimana pun kita bisa belajar, bukan hanya di kelas, sekolah, atau lembaga tertentu aja tapi belajarnya bisa dimana-mana, dan tujuannya UNTUK MEMPEROLEH ILMU DAN KETERAMPILAN. Sedangkan belajar dari definisi “study”, belajarnya hanya untuk KEPENTINGAN SEKOLAH aja (akademik).

Sebelumnya, gue berpikir bahwa belajar itu untuk dapetin nilai bagus, dan impact-nya gue terbebani dengan setumpuk pelajaran yang harus mendapatkan nilai yang tinggi. Akhirnya hal tersebut membuat gue lempeng-lempeng aja di kelas, mulai dari ngekor temen-temen gue yang nguasain pelajaran-pelajaran yang gue anggap sulit dan yang gue pikir impossible banget dipikiran gue. Pokoknya kacau banget dulunya sebelum gue tahu 2 istilah ini.

Dan semenjak gue tau istilah learn dan study, perlahan gue mulai men-setting ulang pemikiran (mindset) gue, yaitu menggantikan belajar dari definisi “study” ke definisinya “learn” karena selama ini gue hanya belajar untuk kepentingan nilai aja tanpa memperhatikan ilmu yang gue dapetin. Mulai dari situlah gue udah mulai suka untuk belajar di luar selain di dalam kelas.

Owh gitu! Tapi apa cuma dengan memperbaiki mindset aja cukup, nggak kan?

Iya benar! Mengubah mindset itu cuma pondasinya aja loh. Selanjutnya yang perlu diketahui adalah tau kenapa kita harus learn* dan bagaimana caranya.

*Untuk selanjutnya, gue pake kata “learn” aja ya, biar jelas apa yang kita sedang bahas, biar nggak ambigu (banyak arti) gitu 😀

“Kenapa harus dua kata tanya itu? Kenapa nggak kata tanya yang lain?”

Nah kan! Nanya nya pake kata “kenapa” lagi :D.”

Kata tanya “mengapa/kenapa” adalah kata tanya fundamental yang digunakan untuk mengupas sesuatu yang ingin kita ketahui. Gue pernah nonton video TED-Talk sebelumnya yang ngebahas pentingnya menggunakan kata “mengapa” yang judulnya “Start with why!” yang dibahas sama Bro Simon Sinek.

Ini penjelasannya kalo makeitationers kurang ngerti sama bahasa inggris :D. Bro Simon menjelaskan kalo kata tanya “mengapa” ini telah digunakan oleh banyak orang yang sudah mendapat kesuksesan besar di dunia ini. Mulai dari Da Vinci, Wright Brothers, Luther King, dan lainnya yang meraih kesuksesan karena menerapkan konsep ini. Yang lebih serunya lagi, dia ngebahas gimana sih suksesnya Steve Jobs melalui Apple-nya karena menerapkan konsep “Start with why” ini. Dia menjelaskan bahwa Steve Jobs menciptakan sesuatu dengan menanyakan dirinya kenapa dia ingin menciptakan produk-produk Apple-nya tersebut. Sebenernya konsep ini pernah gue bahas diartikel sebelumnya, di

Melalui pembahasan Bro Simon diatas, kita bisa ambil konsepnya bahwa learn juga butuh maksud atau tujuan yang jelas kenapa harus melakukannya, yaitu learn yang menghubungkannya dengan masalah dasar kehidupan. Gue 100% menjamin bahwa semua mata pelajaran yang ada di sekolah atau di luar sekolah diseluruh dunia memang dipelajari untuk meyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada dalam kehidupan ini.

Coba deh makeitationers bayangkan, selama ini misalnya kalian learn bahasa inggris, grammar (tata bahasa) untuk mendapatkan score TOEFL tinggi.

Mendapatkan skor TOEFL yang tinggi memang sebuah masalah yang harus diselesaikan, tapi ada masalah yang lebih mendasar lagi dari hanya mengejar skor TOEFL yang tinggi. Misalnya, belajar grammar untuk berbicara biar lebih enak didengar dan dimengerti oleh lawan bicara kita (Speaking), atau untuk menulis status, artikel, buku, atau apalah (Writing) biar tulisan kita lebih enak dibaca dan dipahami oleh para pembaca.

Secara instingtif kita akan cenderung merasa cepat bosan jika hal yang kita lakukan itu sifatnya nggak alami (hal yang berhubungan dengan dasar kehidupan manusia), seperti belajar buat dapetin skor TOEFL yang tinggi itu. Beda lagi dengan belajar buat perbaiki grammar saat kita speaking dengan lawan bicara kita, atau memperbaiki writing untuk pembaca kita. Sifatnya lebih alami karena memang speaking (berbicara) dan writing (menulis) adalah aktivitas dasar dalam kehidupan manusia.

Okay, paham dah sekarang! Kelar nih yang “mengapa”. Trus “bagaimana”-nya gimana?

Sip! Gue lanjut nih.

Seperti pada artikel gue yang sebelumnya bahwa cara belajar yang baik itu adalah deliberate practice, yaitu teknik belajar sungguh-sungguh. Maksudnya, kita mempelajari hal itu bener-bener mulai dari yang paling basic-nya. Dengan begini, kita akan mulai tau gimana sih konsepnya suatu hal.

Misalnya nih, gue belajar grammar tentang tenses.

Gue harus baca apa sih konsep dari tenses tersebut. Setelah gue baca, oh ternyata tenses itu konsepnya adalah kalimat yang dibuat berdasarkan perbedaan waktu dan kondisi. Struktur kalimatnya akan berubah sesuai dengan waktu dan kondisi dihasilkannya kalimat tersebut. Dalam tenses, waktunya dibedakan menjadi empat:

  1. Past : Kalimat dalam bentuk masa lampau/lalu
  2. Present : Kalimat dalam bentuk masa kini/sekarang
  3. Future : Kalimat dalam bentuk masa depan
  4. Past-Future : Kalimat dalam bentuk masa depannya masa lampau (sebelum masuk masa kini)

Dan kondisinya juga dibagi menjadi 4:

  1. Simple : Kalimat yang kondisi aktivitasnya berulang-ulang
  2. Perfect : Kalimat yang kondisi aktivitasnya sudah selesai dilakukan
  3. Continuous : Kalimat yang kondisi aktivitasnya sedang berlangsung
  4. Perfect-Continuous : Kalimat yang kondisi aktivitasnya sedang berlangsung saat setelah selesai dilakukan

Pantesan tenses ada 16 ya! Karena 4 waktu yang berbeda dikalikan 4 kondisi yang berbeda, jadinya 16 tenses. Dan seterusnya!

Oh iya yah! Jadi itu yang dinamakan deliberate practice? Sekarang gue paham!

Sip deh kalo udah paham!

Nah, makeitationers! Sebenarnya belajar itu seru buuaaanget loh kalo mindset, tujuan, dan konsep kita udah bener saat belajar. Dijamin deh nggak bakalan males lagi. Kalo udah tahu gini jangan lupa langsung make it action! Sekian dari writer kece ini! Cheerio!

-QOTD-

Unknowledgeable person would look at things ordinarily, while the knowledgeable one would look at things extraordinarily.” –Bay’ Wo-

 

Wassalam.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY