Apakah kita masih terjajah? Inferiority Complex buktinya!

Apakah kita masih terjajah? Inferiority Complex buktinya!

1561
0
SHARE

Assalamualaikum Makeitationers!

What’s up? Wish you guys blessed by the God!

Sekitar 2 minggu yang lalu tepatnya di lobi kampus, gue duduk internetan pake laptop kesayangan gue, tiba-tiba lewat bocah bareng bapaknya (dosen gue) dan bocah itu ngomong,

Look that, daddy?

Eh, temen gue ngerespon beberapa detik setelah dengerin kata-kata bocah itu, terus dia bilang ke gue,

Wow, keren ya! Kecil-kecil gitu udah bisa ngomong pake bahasa inggris.

Gue hanya dengerin teman gue plus senyum.

Disaat itu juga gue berpikir, kenapa sih harus terpukau dengan hal seperti itu? Padahal hal tersebut saya rasa simple banget gitu. Belum aja dia ngedengerin hal yang lebih dari itu, mungkin sampai mangap kali ya! 😀

Sebelumnya juga, gue waktu itu lagi nulis-nulis di-note gue tentang deduksi sambil nunggu dosen datang, dan temen-temen gue biasalah kalo lagi nunggu dosen palingan sibuk-sibuk pegang gadget-nya sambil ngecek sosmed mereka. Tiba-tiba dari kesenyapan, ada satu yang ngangkat mulutnya disamping gue sambil liatin videonya ke gue,

Bio liat nih..! Bocah-bocahnya keren sekali bahasa inggrisnya, padahal mereka masih kecil.

Di benak gue,

What the… Ya iyalah keren, bocah-bocahnya kan bocah luar negeri, native English lagi! Kenapa harus heran ya?” -_- (Native English speaker: Penutur asli bahasa inggris)

Mungkin hal ini merupakan hal yang biasa kita anggap ya kalo hanya terjadi pada beberapa orang. Oke, gue cerita lagi ya.

Seperti yang kita ketahui, jaman sekarang rata-rata semua dari kita udah punya gadget masing-masing ya. Dan aplikasi yang paling laris diunduh itu, pasti aplikasi sosmed (sosial media), dimana kita bisa share keseharian kita seperti update status, photo, dan video, atau chatting-an dengan orang-orang terdekat kita. Tapi hal yang paling gue sering perhatikan adalah saat seseorang menulis status atau posting photo atau video dengan caption bahasa inggris. Mereka menganggap bahwa bahasa Inggris itu lebih keren dari bahasa mereka sendiri, padahal kebanyakan orang nggak semuanya mengerti dengan caption yang mereka tulis itu.

Mungkin orang-orang yang nge-post diatas itu nggak dari jurusan bahasa inggris ya. Ini gue kasih tahu ya, berdasarkan observasi dan beberapa pendapat temen-temen mahasiswa gue di kampus, bisa disimpulkan bahwa kebanyakan dari kita masih menganggap bahwa bahasa inggris itu masih dirasa asing, padahal mereka berada di jurusan bahasa inggris. Dan akhirnya, hal ini yang membuat mereka berpendapat bahwa orang yang bisa berbahasa inggris itu keren sekali. Contoh kasus dibeberapa kelas tingkatan dibawah gue dan termasuk kelas gue sendiri, mereka masih menganggap bahwa bangga bisa berbahasa inggris. Jadi, jangankan orang yang nggak pernah tau bahasa inggris, yang di jurusan bahasa inggris aja belum tentu mengerti.

Semua fenomena yang gue ceriatain diatas dinamakan Inferiority Complex, dimana kita merasa merasa lemah (inferior) dibandingkan dengan orang-orang lain yang memiliki sesuatu yang kita anggap lebih besar. Hal ini akan menyebabkan pemujaan yang berlebihan terhadap orang lain yang berhasil mencapai sesuatu. Oke gue kasih contoh biar jelas:

Kemarin kan, Obama, presiden Amerika Serikat, datang berkunjung ke Indonesia.

Dia datang untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia, kalo nggak salah, bertemu dengan presiden Jokowi, dan melakukan perihal lainnya. Tapi ini kejadian yang paling unik dari kedatangannya Obama, dia menyempatkan diri untuk makan bakso.

Tiba-tiba, hal ini menjadi viral bahwa Obama makan bakso. Ini menjadi perbincangan menarik bagi kebanyakan orang Indonesia sampai-sampai viral, padahal hal ini jika bener-bener dipikirkan lagi merupakan hal yang sangat sepele. Bakso yang biasa kita makan setiap hari, mungkin kita bosan mendengarnya, tiba-tiba menjadi spesial gara-gara Obama yang makan.

Makeitationers sadar gak dengan fenomena yang satu ini? Jika ditinjau ulang dari beberapa cerita diatas, apalagi kasus Obama makan basko, maka kita bisa kita simpulkan kita merasa bahwa diri dan bangsa kita sendiri itu dalam keadaan lemah. Dimana kita membesar-besarkan atau membanggakan sesuatu yang sepele karena orang atau bangsa lain yang kita rasa kuat itu yang membawa atau memegang sesuatu yang kita punya.

Kok hal ini bisa terjadi sih?

Sebenarnya pola dari kejadian ini cukup simple jika kita menyadari apa sih yang sebenarnya terjadi. Okay, gue jelasin polanya biar ngerti konsepnya kenapa sih hal ini terjadi.

Pernah nyadar nggak sih kalo pola yang dilakukan oleh orang-orang dicerita gue diatas itu selalu kagum berlebihan terhadap hal-hal yang selalu ada hubungannya dengan asing, padahal hal itu sesuatu yang sifatnya sepele, dan jika perhatikan itu merupakan mental yang sangat lemah sekali. Coba telaah cerita-cerita gue diatas tuh, cerita yang pertama dan kedua gue menceritakan tentang orang yang seharusnya nggak bersikap heran dengan bahasa inggris terhadap yang dilihat dan didengarkan, dan cerita ketiga gue menceritakan ketenaran bakso setelah presiden Obama memakannya, padahal sebelumnya bakso biasa-biasa saja.

Ini menunjukkan bahwa diri dan bangsa kita sedang merasa inferior (lemah) dibandingkan dengan negara asing. Dari pola-pola cerita diatas, kita cenderung merasa sesuatu dari luar itu sifatnya “WOW”, padahal itu sebenarnya sangat sepele sekali, yaitu:

  1. Ke-keren-anbahasa inggris. (Padahal bahasa inggris biasa aja. Semua bahasa didunia sama aja)
  2. Presiden Obama makan bakso. (Padahal orang-orang kita yang makan baksonya jarang tuh diekspos atau dibicarakan sampai berlebihan seperti itu)

Terus effect-nya kalo kita seperti merasa seperti itu apa?

Jika kita bener-bener menyadarinya, sebenernya ini merupakan masalah serius loh! Ini merupakan masalah mindset (pola pikir). Memang mungkin kita negara yang sedang berkembang ya, jadi wajar kita memperhatikan negera-negara yang maju dan terkenal. Tapi kita cenderung memperhatikan hal-hal yang tidak seharusnya diperhatikan dan kita nggak mencoba untuk berpikir dan melalukan sesuatu agas bisa seperti mereka, sampai-sampai kita mengatakan “WOW”, seperti cerita-cerita gue diatas. Saking kita nggak punya topik yang lain, kita mengangkat topik yang sangat lemah sekali untuk diperbincangkan.

Nah, mindset seperti ini dinamakan Fixed-Mindset, dimana saat kita melihat dan memperhatikan sesuatu yang sifat “WOW”, kita menganggap sesuatu itu nggak akan bisa kita lakukan, dan akhirnya kita cenderung menjadi pribadi yang lemah karena merasa nggak akan bisa melakukannya.

Jangan salah loh! Pandangan seperti ini akan mempengaruhi cara pandang kita terhadap hampir seluruh aspek yang kita lihat dan kita perhatikan. Kita akan merasa “tidak akan pernah bisa” untuk melakukan hal hebat yang kita perhatikan. Lihat aja cerita-cerita gue diatas itu merupakan contoh orang sedang mengalami inferiority complex.

Mau nggak mau kalo keadaan udah seperti ini kita akan merasa ketergantungan terhadap sesuatu yang pandang “WOW” itu loh. Ketergantungan (dependen) merupakan pengaruh terburuk dari kasus inferiority complex. Kalian bisa bayangkan kalo  kita, menggantungkan diri kita terhadap seseora

ng terus-menerus. Terus pertanyaan gue ke kalian yang ketergantungan, gimana kalo tempat kalian menggantungkan diri itu hilang? Kemungkinan terbesar adalah tidak dapat bertahan. Pernah lihat gak kasus orang kecanduan narkoba? Kalo mereka berhenti, rasaya seperti mau mati aja. Ngeri kan?

Trus gimana cara mencegahnya? Dan kalo pun pikiran kita sudah seperti itu, bagaimana cara menghilangkannya?

Karena ini merupakan sebuah penyakit mental yang dimana kita merasa lemah ketika kita melihat sesuatu yang lebih hebat dari kita, maka dengan menyadarinya lebih dulu merupakan langkah pertama yang harus dilewati. Nah, ini kan kita udah tau nih, apaakah kita merupakan orang merasa sedang dalam mental inferiority complex atau tidak. Jika iya, maka langkah selanjutnya adalah mengenali mindset kita gimana, apakah kita berpikir dengan menggunakan fixed-mindset (pola pikir yang tetap) atau growth-mindset (pola pikir yang terus bertumbuh).

Fix-mindset, dimana pola pikir kita terhadap sesuatu itu tetap. Hal ini akan menyebabkan seseorang akan menganggap dirinya lemah dibandingkan orang lain karena dirinya dirasa tidak akan bisa seperti orang hebat yang mereka lihat. Nah, ini nih yang menyebabkan inferiority complex.

Biar mental seperti itu hilang, maka makeitationers harus menggunakan Growth-Mindset,

dimana pola pikir kita terhadap sesuatu akan terus bertumbuh. Ini gue sebut sebagai antidote (penawar) dari penyakit mental inferiority complex ini karena kita akan dibuat untuk berpikir lebih logis lagi. Semua hal yang kita tidak bisa kita lakukan, digantikan dengan pola pikir ini bahwa kita belum bisa yang artinya kita hanya perlu mencoba saja. Untuk orang berpikir dengan mindset ini, dipikirannya tidak ada yang tidak bisa, tapi hanya belum bisa. Dan akhirnya kita akan mencoba melakukan yang kita rasa tidak bisa itu.

(Untuk penjelasan yang lebih jelas tentang fixed-mindset dan growth-mindset klik disini!)

Okay makeitationers, nggak akan selesai sebuah masalah kalo kita sendiri nggak mau nyelesain masalah itu. Masalah diatas kelihatannya simple, tapi memiliki pengaruh yang sangat buruk bagi kehidupan kita karena masalhnya ini berkenaan pola pikir kita (mental kita). Pernah dengar nggak pepatah ini:

Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Nah, kelihatankan mana masalah yang harus diselesain duluan, yaitu jiwa kita. So, jadilah pelopor-pelopor yang berjiwa kuat. Sekian!

Wassalam!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY